MODEL DESA KONSERVASI (MDK) DI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK ADANG

20 Maret 2013 Info Konservasi   


MODEL DESA KONSERVASI (MDK) DI KAWASAN  CAGAR ALAM TELUK ADANG

Oleh: Mustalafin, S.Pi dan Danang Anggoro *)

 

Model desa konservasi merupakan contoh desa yang dijadikan model dalam upaya pemberdayaan masyarakat disekitar kawasan konservasi, dengan memperhatikan aspek konservasi alam, sosial, ekonomi dan budaya sebagai bagian yang terintegrasi dengan pengelolaan kawasan konservasi itu sendiri. Kebijakan dasar pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, menggunakan prinsip pemberdayaan masyarakat sesuai dengan pasal 5 Peraturan Menteri Kehutanan  nomor P.01/Menhut-II/2004 yaitu:

  1. Menciptakan suasana iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi masyarakat,
  2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat,
  3. Melindungi masyarakat melalui keberpihakan kepada masyarakat untuk mencegah persaingan yang tidak sehat. (Dephut, 2004)

Dalam pelaksanaan ketiga prinsip pemberdayaan masyarakat tersebut, dapat dibangun melalui tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut :

  1. Membangun kesepahaman dengan berbagai pihak (stakeholders).

Tahapan ini dapat dilakukan melalui pertemuan dan koordinasi dengan pihak terkait, baik aparat desa maupun instansi dan LSM yang terkait.

  1. Membangun dan mengembangkan kelembagaan tingkat desa.

 Kelembagaan yang dimaksud berupa Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP), yang diharapkan dapat menjadi sarana guna menyalurkan aspirasi masyarakat, menumbuhkan rasa kebersamaan masyarakat di desa penyangga. SPKP selanjutnya akan dilengkapi dengan sekretariat, sistem administrasi dan kelengkapan yang mendukung lainnya.

  1. Menyiapkan tenaga pendamping/ fasilitator, yang siap mendampingi masyarakat.

Tenaga pendamping tersebut bisa dari tenaga fungsional penyuluh kehutanan yang dibantu tenaga fungsional lingkup kehutanan lainnya seperti Polisi Kehutanan dan atau Pengendali Ekosistem Hutan lingkup Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Atau dapat juga tenaga pendamping tersebut berasal dari lembaga kemitraan seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, instansi daerah terkait ataupun penyuluh swadaya

  1. Pelatihan pendukung.

Tahapan ini bertujuan agar peserta mengetahui potensi desanya dan dapat menganalisis permasalahan sehingga menemukan solusi terkait sosial ekonomi masyarakat, tentunya pelatihan pendukung tersebut didasarkan pada kebutuhan dan aspirasi masyarakat dengan model PRA (parsipatory rural aprasial).

  1. Meningkatkan kapasitas masyarakat

Dilakukan melalui pelatihan teknik budidaya dan pengembangan kegiatan yang telah disusun oleh kelompok berdasarkan dari praktek PRA.

  1. Mengembangkan usaha ekonomi produktif

Dilaksanakan dari rencana yang telah dibuat dan sebelumnya telah dilatih teknologi pengembangannya.

  1. Membangun kemitraan dengan para pihak  (stakeholder) terkait.

Tahapan ini bertujuan mencari jejaring pemasaran, saprodi (sarana dan prasarana produksi) dan permodalan. Prinsip saling menguntungkan mendasari kemitraan ini.

  1. Melakukan monitoring dan evaluasi

Langkah ini nantinya juga menjadi langkah membangun MDK. Oleh karena banyaknya tahapan yang harus dilalui, maka langkah pelaksanaanya bisa secara berkala yang diikuti dengan monitoring dan evaluasi.(Nastiti, 2011).

Pelaksanaan tahap-tahap pembangunan MDK di kawasan Cagar Alam Teluk Adang merupakan bagian dari solusi konflik-konflik yang terjadi dalam pengelolaan kawasan ini. Permasalahan utama dikawasan Cagar Alam Teluk Adang adalah apa yang dianggap termasuk kategori perambahan kawasan dan terdapatnya wilayah administrasi kependudukan/ desa di dalam kawasan yang berdasarkan sejarah sudah ada sejak sebelum ditunjuknya kawasan Cagar Alam Teluk Adang sebagai kawasan konservasi (SKW III BKSDA Kaltim, 2012). Kegiatan ekonomi masyarakat disekitar kawasan adalah sebagai petambak, nelayan dan swasta. Jumlah lahan tambak yang berada dalam kawasan berdasarkan analisa citra satelit tahun 2011 sebesar 13.096,73 Ha atau sebesar 21,15%  dari luasan kawasan (BKSDA Kaltim, 2011). Berikut adalah perkembangan jumlah luasan tambak (Ha) di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Adang :

Meningkatnya lahan usaha pertambakan masyarakat menjadi kendala utama dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Adang. Dengan nilai tren yang selalu naik tiap tahun, memerlukan usaha kuat untuk mencegah perluasan pembukaan lahan pertambakan melalui pemberdayaan masyarakat dengan memberikan alternatif usaha ekonomi  yang lebih menguntungkan, sesuai dengan potensi , dan lebih mendukung mendukung upaya pelestarian kawasan konservasi tersebut. Upaya awal pengalihan kegiatan ekonomi masyarakat yang awalnya berbasis lahan menjadi berbasis perairan ditempuh melalui kegiatan pelatihan dan penguatan kelembagaan.

Tahapan tersebut menciptakan domain kegiatan pembangunan yang partisipatif, mendorong kepemimpinan lokal dan kelembagaan perdesaan yang akan berperan penting dalam proses menuju keberlanjutan pembangunan, dengan mempertimbangkan aspek lokalitas (berbasis lokal). Dengan demikian pembangunan desa dapat berjalan lebih mandiri dan berkelanjutan. Berikut adalah skema model pengembangan desa berbasis Konservasi dalam upaya pengembangan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Adang.

Menurut Wirasena (2011), upaya program MDK merupakan bentuk peningkatan peran masyarakat sebagai ujung tombak dalam melestarikan sumberdaya alam dan ekosistemnya. Sebagaimana dalam arahan Kementerian Kehutanan yang dalam siaran pers nomor 62/PIK-1/2009 menyebutkan bahwa tujuan pembangunan MDK disekitar Kawasan Konservasi (KK) yaitu dari aspek ekologi/lingkungan, MDK dapat menyangga KK dari berbagai gangguan, memperluas habitat flora dan fauna yang ada di kawasan konservasi.

Pengembangan potensi lokal berupa perairan laut dengan pemanfaatannya yang tidak mengganggu kawasan Cagar Alam Teluk Adang merupakan bagian dari upaya untuk pengalihan kegiatan ekonomi masyarakat ke arah yang yang lebih mendukung pelestarian dan pengawetan serta perbaikan ekosistem di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Adang itu sendiri.

Pengolahan tambak masyarakat yang masih bersifat tradisional dengan mengandalkan sirkulasi air melalui pasang surut air laut dinilai sangat tidak menguntungkan secara ekonomi dibanding dengan tingkat kerusakan hutan mangrove itu sendiri. Hal ini dikuatkan lagi berdasarkan pengamatan dan wawancara saat survey lapangan oleh tim dari Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Kaltim, terlihat bahwa kemampuan produktifitas tambak masyarakat hanya berada pada kisaran maksimal 10 tahun. Banyak areal bekas tambak yang dimiliki  masyarakat dibiarkan setelah sekitar 10 tahun digunakan untuk bertambak. Penurunan tajam produktifitas hasil tambak di Cagar Alam Teluk Adang diduga disebabkan karena kerusakan mangrove yang mengakibatkan mutu air secara fisik, kimiawi dan mikrobiologis merosot tajam, seperti kajian yang dilakukan oleh Mardawati (2004) di Kamal Jakarta.

Pada tahun 2011,Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Kalimantan Timur membentuk model desa konservasi di Desa Pondong dan Desa Air Mati. Kegiatan utama adalah pendampingan dan pelatihan budidaya rumput laut. Dengan wilayah laut yang luas disekitar desa tentu berpotensi dalam pengembangan budidaya rumput laut. Proyeksi jangka panjang budidaya rumput laut adalah untuk mampu mengembangkan dan membuat industri pengolahan produk turunan rumput laut hasil budidaya. Pelaksanaan penguatan kapasitas masyarakat desa berupa pelatihan budidaya rumput laut dengan metode jaring apung dan metode long line (tali panjang) dan pengembangan usaha perikanan nelayan tangkap melalui pendekatan nilai konservasi.

Kendala-kendala yang ditemui dalam pengembangan perekonomian desa dengan mengalihkan kegiatan bertambak menjadi pembudidaya rumput laut adalah permasalahan meretas budaya awal sebagai petambak, ketergantungan kepada tengkulak, penanganan pasca panen dan pemasaran hasil rumput laut kering. Kendala-kendala tersebut tidak menyurutkan niat untuk mengedepankan usaha yang lebih mendukung upaya konservasi sehingga akan meminimalkan tingkat perambahan dan perusakan serta tekanan terhadap hutan mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Adang.

Selain untuk pengembangan kegiatan budidaya rumput laut, juga dilakukan pembinaan terhadap nelayan perikanan tangkap. Permasalahan penanganan pemasaran hasil tangkapan, dilakukan dengan penguatan kelembagaan kelompok dan membantu mencari pemasar yang lebih kompetitif. Selain itu mulai ada produk-produk olahan dari hasil tangkapan ikan, seperti amplang bandeng, krupuk ikan bandeng dan produk-produk olahan lainnya yang memiliki potensi ekonomi lebih tinggi jika dikelola dengan sistem pemasaran yang lebih baik. Upaya lain yang sedang dirintis adalah dengan membuat unit pengolahan dan pemasaran melalui sistem koperasi yang berakar dari modal anggota dan keuntungan yang dikembalikan kepada anggota.           

Pengenalan teknologi tepat guna dan inovasi teknik budidaya rumput laut merupakan materi utama dalam penguatan kapasitas masyarakat desa di kawasan Cagar Alam Teluk Adang, seperti yang tergambar pada dokumentasi di bawah ini :

Pemberdayaan masyarakat di Cagar Alam Teluk Adang ini pada dasarnya merupakan sebuah proses yang harus berkelanjutan. Dilakukan dengan segala upaya dengan tujuan utama untuk meningkatkan keberdayaan masyarakat  dan untuk memperbaiki kesejahteraannya. Bagian ini merupakan hal penting dari proses rekayasa sosial untuk menanamkan kesadaran dan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya, secara berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Mardawati, Upik. 2004. Kajian Keterkaitan Mangrove dan Keterkaitan Budidaya Tambak di Kelurahan Kamal Jakarta Utara. [Skripsi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Mulyandari, S., Wasidi S., Cahyono Tri W., Ilona V. O. S.  2010. Implementasi CSR Dalam Mendukung Pengembangan Masyarakat  Melalui Peningkatan Peran Pendidikan. (Tidak dipublikasikan)

Nastiti, P. 2011. Membangun Desa Melalui Model Desa Konservasi. Buletin TNGM. Edisi 003/Juni 2011/TNGM. Yogyakarta

Wirasena, P. 2010.   Pengembangan Program Konservasi Sumber Daya Genetik Tanaman Hutan (KSDGTH) melalui Model Desa Konservasi. UPFORGEN. Jakarta

[BKSDA Kaltim].2012. Laporan bulanan Seksi Konservasi Wilayah III Balikpapan

[BKSDA Kaltim]. 2011. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Cagar Alam Teluk Adang Periode 2011-2030 Propinsi Kalimantan Timur. Samarinda 

[SKW III Balikpapan].2011.Laporan Kegiatan: Penguatan Kapasitas dan Kelembagan Masyarakat di Sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Adang. Balikpapan (tidak dipublikasikan)

Dephut. 2009. Siaran Pers no. 62/PIK-1/2009  Model Desa Konservasi (MDK) Memberdayakan Masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi.  [terhubung berkala] 08 Maret 2013. http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/5107

 

*) Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Kalimantan Timur (Mustalafin,S.Pi.,MP./198404202010121009/Calon PEH, di-edit oleh Danang Anggoro)